>Siapa berhak mencabut nyawaku?

>

Semalam saya menonton talk show yang dibawakan ANDY F. NOYA di metro tv. Tema nya Euthanasia – Siapa berhak mencabut nyawaku? Setelah selesai menonton acara tersebut saya tidak bisa tidur, saya kok jadi mikir gimana seandainya hal itu menimpa saya atau keluarga saya [Nauzubila minzalik] tapi yang namanya musibah bisa datang kapan saja ya… Mudah-mudahan saya,anda atau orang lain tidak akan pernah dihadapkan pada permasalahan seperti ini ya amin 😀

Ibarat makan buah simalakama ketika ketika kita dihadapkan pada permasalahan “Euthanasia”.
Satu sisi secara moral dan perasaan cinta&sayang kita tidak akan mampu memutuskan “eksekusi” kematian untuk orang yang kita sayangi. tapi di lain sisi kita juga pasti nga akan tega melihat orang yang kita sayangin menderita karena penyakitnya. mungkin ada sebagian orang yang pada akhirnya berpendapat daripada terus menderita tanpa harapan lebih baik mati dan tidak merasakan rasa sakit lagi .
Persoalan menjadi bertambah ketika menyangkut masalah ekonomi, Seharusnya kita tidak boleh menyerah ketika kita tersangkut masalah ekonomi. Kita harus pasrah dan yakin Tuhan pasti memberi rezeki kepada kita. tapi tidak semua orang mempunyai ketabahan dan kepasrahan sebesar itu karena bagaimanapun cara pandang dan situasi ekonomi di setiap rumah tangga berbeda.
Ketika tadi pagi saya membahas tentang Euthanasia dengan seorang teman melalui Ym, teman saya malah bertanya bagaimana seandainya ada seorang suami yang menderita suatu penyakit kronis dan kondisi kesehatan nya hanya 5% sementara istrinya tidak punya penghasilan,harta benda mereka sudah habis untuk biaya perawatan suami dan dia mempunyai 4 orang anak yang kecil dan butuh banyak biaya untuk hidup&pendidikan, apakah menjadi suatu “kesalahan” ketika sang istri nya memutuskan untuk melaksanakan “eksekusi” tersebut karena merasa sudah tidak sanggup lagi membiayai perawatan sang suami.

Saya bingung tidak bisa menjawab tapi Bagaimana dengan anda??

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Advertisements

3 thoughts on “>Siapa berhak mencabut nyawaku?

  1. >jadi inget waktu aku menyarankan “bos” buat euthanasia-in anjing kesayangannya, hehehehe. secara waktu itu aku anak baru aja gitu yaak. hehehe….aku tipe yang percaya takdir. jadi, kalo emang belum2 juga dicabut nyawanya padahal sudah sekarat abis, aku percaya kalo itu dimaksudkan karena masih ada “pe-er” yang belum terselesaikan di dunia ini, dalam hidupnya. even itu cuma satu kata ‘maaf’ atau mungkin satu pinta yang belum terkabulkan seperti ‘membaca habis komik dunia mimpi’?? hehehe…intinya, everything happens for a reason… juga masalah hidup dan mati. bisa juga, kesengsaraan menjelang ajal ditujukan sebagai pembelajaran usaha dan pasrah berserah diri. seperti itu sih.euthanasia itu ibarat kata kasar cuma “jalan pintas”…

  2. >Poetrij :Iya put..elo Rada-rada juga ya waktu nyaranin euthanasia-in si “dikko” untung si “boss” lagi sedih jadi nga kefikiran untuk mecat elo hii…hii…Dedi :Thanks ya udah mampir dan kasih comment.Ya..suka nonton metro tv juga 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s