>Jangan berprasangka ( =NAIFkah) ?

>

Hari selasa lalu karena sopir jemputan nga masuk, akhirnya saya memutuskan pergi ke kantor dengan menumpang bis Patas AC 10 dari terminal Kp. Rambutan . Sampai terminal kp rambutan langsung menuju deretan bis Patas AC 10 dan duduk di deret nomer tiga dari depan sebelah kanan yang tempat duduknya untuk dua orang, stel musik dari mp3 player lalu buka hape dan mulai ngobrol dengan seorang teman via ebuddy . Tak lama berselang naiklah seorang laki-laki kira-kira berumur 27-30 tahunan, berpenampilan rapi jali gaya esmud-esmud (=eksekutif muda) gitu dech 😀 dia langsung duduk di sebelah saya dan mulai memasang earphone yang dari tadi menggantung di sela kemejanya..

Tidak begitu lama bis yang saya tumpangi bergerak keluar dari terminal Kp. Rambutan. Ketika bis mulai memasuki pintu tol jagorawi dan naiklah seorang pengamen dari pintu depan dan membagikan selebaran kertas. Sekilas saya lirik selebaran kertas tersebut tapi karena hape saya tak henti-hentinya bergetar akhirnya saya melanjutkan ngobrol dengan teman saya. Sayup-sayup dari sela kuping yang terganjal headphone saya mendengar suara si pengamen menyanyi, ehmm biasa saja suaranya, nga bisa dibilang bagus juga ;D dia menyanyikan lagu-lagu Indonesia era 80an sampai 90an. lima menit, sepuluh menit berlalu, saya pamit ke teman untuk melanjutkan ngobrolnya kalau saya sudah sampai di kantor. Perlahan saya rubah status YM saya dengan status invisible. Kemudian mencoba menikmati alunan suara john mayers dari dalam mp3 player sambil mencoba untuk tidur. Entah kenapa iseng saya baca selebaran yang dibagikan pengamen tersebut, didalamnya terdapat biodata pengamen tersebut juga terdapat biodata istri dan dua orang anaknya serta beban dan rincian pengeluaran dia sekeluarga.. didalam lembaran kertas itu dia menuliskan kalau dia ( si pengamen) berasal dari tanah pasundan berusia 29 tahun, istrinya ibu rumah tangga biasa, punya dua orang anak. Anak yang pertama berjenis kelamin perempuan dan baru masuk SD sementara anak keduanya masih batita.

Setelah hampir duapuluh menit dia menyanyi dia mulai mengambil lembar demi lembar kertas yang dibagikan tadi dari para penumpang dimulai dari bangku terdepan. Saya merogoh saku saya dan mengambil beberapa lembaran uang recehan yang tadi sedianya hendak saya pakai untuk membeli teh botol tapi karena tidak sempat beli akhirnya malah saya selipkan dikantong celana saya. Setelah pengamen itu pergi dari hadapan saya yang mengucapkan terima kasih, tiba-tiba laki-laki disamping saya berkomentar “mba tidak membantu orang tersebut malah mba membuat orang itu tidak pernah bisa keluar dari lembah kemiskinan” busyet dech dalem banget omongan orang tersebut, saya tidak menjawab omongan laki-laki tersebut tapi hanya tersenyum. Tiba-tiba dia mengeluarkan hape nokia seri terbarunya, rupanya ada telepon masuk lalu bercakap-cakap dgn orang disebrang sana dan tak lama kemudian mengeluarkan macbook dari tas mengetik sesuatu lalu melanjutkan ngobrol di hapenya. Ooh rupanya mereka membahas tentang saham dan investasi (iseng banget sih curi dengar hee..hee..) setelah selesai dengan urusan hape dan macbooknya dia mencoba membuka pembicaraan lagi dengan saya.

Mas Esmud: Ini yang nga saya suka kalau naik bis umum pengamen dimana-mana, bawa mobil sendiri macet lalu three in one..
Mba Luhny: ?????
Mas Esmud: Mba tau berapa penghasilan mereka perhari?
Mba luhny : Nga , saya nga kerja di dinas sosial mas 😀
Mas Esmud: Kalau di gabungkan perbulan bisa lebih dari gaji para karyawan pabrik yang berjejer disepanjang jalan raya bogor lhoo..
Mba Luhny : ooh
Mas Esmud : Kalau mba mau bantu seharusnya mba ambil anak asuh aja, lebih jelas..
Mba Luhny : Mas Punya anak asuh? Gimana caranya?
Mas Esmud : Saya nga punya anak asuh (dia menjawab pelan) belum tertarik..
Mba Luhny : Wah kalau mas yang udah mampu beli nokia seri terbaru dan macbook aja belum tertarik untuk mempunyai anak asuh apalagi saya yang mau beli sofabed aja masih mikir-mikir (kok curhat, dalam hati berkata “gue pikir dia punya banyak anak asuh sampe nyuruh gue ambil anak asuh” gubraaaaak :D)
Mas Esmud : Jadi ingat ya mba, jangan dech ngasih uang ke pengemis atau para pengamen!!!

Lalu apa hubungannya antara uang recehan yang saya berikan ke pengamen tadi dengan si mas esmud yang hanya “talk only no action” itu? Uang itu keluar dari kantong saya, bukan dari kantong si mas esmud tadi.. Dengan mengeluarkan uang tersebut alhamdulillah saya masih baik-baik saja hanya nga jadi minum teh botol dingin ;D lagian nga penting juga teh botol karena saat itu saya berada di bis ac yang lumayan dingin jadi rasa hausnya hilang hee..hee… Saya merasa yakin pengamen tadi lebih membutuhkan uang recehan itu dengan melihat pengamen tadi menyanyi selama duapuluh menit dan melihat keringat mengalir deras dari raut wajahnya. Saya bukan bermaksud untuk tidak perduli dengan dampak permasalahan sosial, Lagian saya bukan pejabat pemerintah yang mempunyai kewajiban untuk mengurusi permasalahan sosial, masalah kesejahteraan, lapangan pekerjaan atau apalah lha wong pejabat pemerintahannya sedang sibuk dengan persiapan pemilu 2009. Saat ini yang terlintas dalam otak saya yang orang biasa-biasa ini adalah hanya hal yang sederhana, selama saya mempunyai sesuatu yang tidak terlalu saya perlukan dan orang lain lebih baik membutuhkannya kenapa tidak saya berikan? ;D
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s