>Busur dan Anak Panah [Again]

>

Jujur, Kemaren sore ketika seorang teman bertanya apakah saya mau dan berani memberi komentar di notes facebook-nya saya sedang dalam keadaan suntuk plus sedang tidak ingin berdebat. dan ketika sang teman terus berusaha merasuki pikiran saya untuk masuk ke dalam pikiran “liarnya” saya tetap tak bergeming, entah kenapa saat ini saya sedang lelah memikirkan sesuatu yang sifatnya rumit atau ngejelimet, sejenak saya ingin menikmati hidup tanpa harus memikirkan teori-teori dan teori 😀 dan kemudian saya tersentak ketika sang teman berkata “kenapa kamu ngerasa teori itu nga penting padahal segala sesuatu itu berawal dari sebuah teori?” saya tersenyum dan membenarkan apa yang dikatakan sang teman, mungkin saya hanya sedang stuck in a moment [kalah lagunya U2 😀 ] sehingga saat itu menganggap teori bukanlah sesuatu yang penting.

Tadi malam selepas isya menjelang tidur saya teringat suatu percakapan saya dengan seorang laki-laki yang harus saya akui membawa pengaruh terbesar dalam perjalanan hidup saya, detail percakapannya tidak mungkin saya ungkapkan dalam blog ini karena sifatnya personal tapi saya sempat membuatnya menjadi topik postingan saya pada tahun 2006 dalam blog ini dan saya beri judul Busur dan panah. saya ingat saat itu kami membahas tentang menjadi orang tua dan topik yang sama juga yang saat ini sedang di bahas oleh sang teman.

Sedikit pertanyaan yang mengelitik hati saya, apakah semua manusia yang hidup di muka bumi ini menganggap bahwa mempunyai anak atau menjadi orang tua adalah prioritas utama dalam hidup dan jika iya apakah yang melandasi pemikiran itu?
1. Norma Sosial atau agama .
2. Perasaan ingin mencurahkan kasih sayang
3. Investasi masa tua
4. Perasaan superior bahwa ada orang yang bergantung hidup
5. Pembuktian mempunyai organ reproduksi yang sehat
6. Pelengkap suatu hubungan [perkawinan]
7. Prestasi dalam hubungan sosial

Dalam batas angan sederhana saya menjadi orang tua adalah sesuatu yang alami, siklus hidup , suatu kodrat… menjadi orang tua “seharusnya” bukanlah suatu beban jadi “seharusnya” tidak perlu ada ketakutan apakah kita dapat menjadi orang tua yang baik, dapat memenuhi kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan atau bahkan kebutuhan tersier lainnya. menjadi orang tua “seharusnya” tidak menjadikan kita tidak percaya diri, menjadikan kita bertanya apakah kita bisa mendidik atau menjaga mereka dengan baik, apakah kita bisa bersikap adil dan apakah anak-anak kita bisa merasa bahagia karena pada dasarnya manusia hidup itu berproses tidak selamanya selalu mendapat yang terbaik. saya berfikir kadang sedikit kepedihan atau kekurangan bisa membuat “sosok” seorang anak menjadi lebih kuat dibandingkan dengan “sosok” anak yang selalu memperoleh semuanya dengan mudah. ternyata begitu mudah berteori ya… mungkin kalau kebetulan ada teman saya yang kebetulan “pakar” dalam hal seperti ini melihat tulisan saya ini, dia akan berkomentar “aahhh teori aja lo nuuii praktek…praktek… ” hueheeheee

Seberat apakah menjadi orang tua? Kenapa banyak orang [mungkin termasuk saya :D] memerlukan persiapan khusus ketika memutuskan ingin menjadi orang tua? terlalu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam otak saya dan terlalu banyak jawaban dari orang-orang baik yang sudah menjadi orang tua atau belum yang juga memenuhi ruang otak saya, membuat saya bingung dan akhirnya membuyarkan niat saya untuk berkomentar di notes nya sang teman. ahhh memang dalam beberapa waktu ini virus “bolot” sedang menyerang otak saya bahkan membuyarkan kosentrasi saya ketika sedang berkomunikasi. mungkin benar saat ini saya benar-benar butuh refreshing… ;D

Advertisements

4 thoughts on “>Busur dan Anak Panah [Again]

  1. >i can smell ‘that’ tone di 7 item pilihan diatas… walau sebenernya tone yg aku maksud mgk gak disisipkan disini.well…this is the same question i have in my head for years.. and still questioning in fact. sebenernya beda tipis sama masalah nikah: ‘apa cuma legalisir seks aja?’tapi.. memang cara berpikir dan pilihan prioritas… dan bagaimana mereka mau mewujudkan aktualisasi diri itu beda-beda tiap orang. termasuk alasan dibalik setiap pilihan yang dipilih itu.termasuk menempatkan pilihan ‘memiliki anak’ sebagai prioritas utama hidup.suka tanya, “klo udah punya anak, terus?”dan biasanya, dibalikin, “yaah, elu kan emang gak minat.”(O.o) dan saya pun bingung…eniwei, terus terang, aku ngomong ini gak ada sangkut pautnya sama suka/gak sukanya aku sama anak kecil. hanya mempertanyakan ‘kenapa kok matter banget punya/gak punya anak’? apa keluarga itu selalu berarti ‘ayah’, ‘ibu’ dan ‘anak kandung’? kalo itu artinya, i prefer to not having a family at all, bukan kenapa, tapi gak mau terbelenggu sama lingkaran yang mematikan aja.well…sepertinya komentarku ini gak bermakna dan malah ngotor2in blog orang, hihi.. gak di blog gak di pesbuk note, kerjaannya nyampah. maap mbaaa…^^Vcheers

  2. >Nice thought put… Nga akan ngotor-ngotorin kok put… Gw malah suka banget kalo ada orang yang mau komen di blog gw karena dengan begitu gw juga jadi ikutan mikir, ikutan belajar memandang hidup nga cuma dari satu sisi…cheers juga… viva la vida ;D

  3. >Nuuii,Kalau keinginan mempunyai anak didasarkan ketujuh poin yg kamu sebutkan itu, memang jadinya terasa berat sebab alasannya lumayan egois. Saya pernah memutuskan tak ingin memiliki anak krn takut akan keribetannya, tp (spt semua hal di dunia ini) setelah dijalani ya akhirnya semua menjadi santai dan ternyata enggak ada yg ribet asal mau selalu belajar.tp memang memiliki keturunan adalah pilihan, makanya saya paling gak suka nanya2 sm pasangan yg menikah; kapan punya momongan? kok belum nambah lagi? blablabla.. those questions are suck, you know! sebab spt kamu bilang, memiliki anak adalah hal yg alami.(moga2 komennya gak terdengar spt curcol, hehe..)

  4. >@Astrid…terdengar seperti curcol sih trid huahahah..[nga deng..]tapi hidup itu khan memang berproses dan “seharusnya” kita menikmati proses itu klu terlalu instan rasanya nga nikmat lagi ;D btw kemaren, maaf ya aku yang curcol di status fb-mu huehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s