>Manohara vs Siti Hajar = Jelita vs Jelata

>

Sebenarnya agak sedikit basi menulis tentang Manohara dalam blog ini karena banyak teman-teman blogger yang sudah menulis topik ini beberapa minggu lalu dan kebetulan karena saya juga sedikit malas membahas tentang Manohara akhirnya saya pun tak tersentuh “demam” mano oh mano itu. tapi siang ini saya sedikit tergelitik dengan kasus manohara ketika melihat hampir semua status yang terpampang dalam home facebook saya bertema Manohara dan Siti hajar. Ada hubungan apa antara Manohara dan Siti Hajar?

Seperti kita ketahui kasus Manohara sudah banyak menarik perhatian publik indonesia dari beberapa minggu lalu, detail kasusnya seperti apa rasanya tak perlu dijelaskan lebih lanjut karena saya rasa hampir semua warga Indonesia mengetahui dengan pasti kasus yang menyeret pangeran Kesultanan Kelantan Malaysia Tengku Muhammad Fakhry ini memang begitu fenomenal. Mungkin karena yang tersangkut kasus ini adalah perempuan jelita seorang mantan model yang tentu saja punya nilai jual lebih dalam publikasi media di indonesia, bahkan banyak pengacara yang berebut ingin menangani kasusnya. dan setelah beberapa minggu Manohara selalu tampil di infotaiment akhirnya terbaca juga kemana sebenarnya arah Manohara. ternyata feeling saya dari awal kasus ini mencuat tidak salah 🙂

Lalu Bagaimana dengan Siti Hajar? Siapakah dia?
Siti Hajar seorang pembantu rumah tangga asal garut yang mengalami penganiayaan selama 34 bulan oleh michele majikannya di Malaysia. Siti hajar berhasil melarikan diri dari majikannya pada pukul 01.00 pagi, Senin 8 Juni 2009 lalu. berbeda dengan kasus Manohara yang berhasil menarik perhatian publik bahkan kasusnya sempat sampai ke DPR, kasus Siti Hajar tampaknya tak begitu menarik untuk di publikasikan sama halnya dengan kasus ribuan para “pahlawan devisa” kita yang mengalami banyak masalah di luar sana. saya jadi teringat dengan perjalanan saya ketika di Macau, ketika sedang berada di airport Macau ketika hendak menuju Bangkok saya sempat di sapa oleh seorang TKI asal indonesia, dari basa-basi ngobrol sampai akhirnya TKI itu curhat tentang suka duka menjadi TKI dan bagaimana sulitnya membangun jaringan dan meminta perlindungan hukum ketika terkena masalah ditempat mereka bekerja.

Meskipun pada akhirnya keluarga majikan Siti Hajar membayar gajinya tapi tetap saja masalah masih menimpa Siti Hajar, dia kehilangan pekerjaan serta trauma terhadap penyiksaan yang dialaminya. meskipun sama-sama disiksa di Malaysia tapi nasib Manohara dan Siti Hajar tidak pernah sama. Setelah atau atau bahkan sebelum kasusnya selesai di sidangkan saya yakin Manohara akan dengan leluasa melenggang dalam dunia hiburan Indonesia, trauma yang dialaminya akan segera atau bahkan mungkin sudah lenyap ketika dia mulai wara-wiri sibuk interview di beberapa infotainment. bahkan tawaran main sinetron, iklan atau bernyanyi akan membuat dia punya penghasilan yang melebihi mas kawin yang di berikan Tengku Muhammad Fakhry yang kabarnya hanya 150 juta. sementara bagi Siti Hajar sebelum atau sesudah kasus ini disidangkan tak ada bedanya, kasus ini tak akan membawa pengaruh yang signifikan dalam hidupnya.

Miris rasanya melihat kasus Manohara dan Siti Hajar, sama-sama menimpa perempuan, warna negara Indonesia, disiksa di negara yang sama Malaysia tapi mempunyai NASIB yang berbeda .

Itulah bedanya antara JELITA dan JELATA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s