hujan dan senja

Menyusuri Pedestrian jalan sudirman menuju stasiun Dukuh Atas,  sore hari  mengingatkan aku akan kamu. beberapa hari ini menjelang sore hari biasanya cuaca agak tidak bersahabat, tapi entah kenapa aku selalu menunggu dan cenderung menyukai kondisi alam yang seperti itu, langit agak gelap di dominasi warna hitam dan abu-abu, rinai  hujan yang  turun perlahan dan membasahi bumi, aroma tanah basah yang menyeruak dari celah tanah basah yang tidak tertutup konblok, gemerlap lampu warna-warni yang mulai menyala dari deretan hutan beton yang terletak di kiri kanan jalan , suara deru kendaraan umum atau suara ban-ban motor yang berpacu dan bergesekan dengan aspal jalan terasa menjadi suatu harmoni yang menyatu dan mengingatkan aku akan bandung di sore hari, mengingatkan aku akan kamu, kita….

Kita… yaaa kita, aku selalu ingat suasana bandung di sore hari, menjelang sore hari biasanya  kamu menanyakan akan di jemput dimana dan setelah makan malam biasanya kita langsung menuju terminal Leuwi Panjang bertolak ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju Leuwi Panjang kita seringkali berjingkrak dan berusaha menghindari genangan air pada jalan berlobang, tidak seperti perempuan lain yang mempunyai hobi membawa payung, aku sebaliknya… aku adalah perempuan yang anti dengan benda yang bernama payung dan sebagai gantinya kamu kamu rela melepas jaket dan memayungi aku dengan jaket favorit mu yang berwarna hijau army itu [menyusahkan] 🙂 seringkali kita mentertawakan kekonyolan orang-orang yang sempat kita jumpai sepanjang perjalanan itu atau sekedar mampir ke toko donat di dekat terminal leuwi panjang, dan biasanya aku memesan segelas orange juice atau ice chocolate dengan donut keju sementara kamu menyesap secangkir kopi hitam yang hangat dan sebuah donut rasa cokelat.

Menyusuri Pedestrian Jalan Sudirman sore ini mengingatkan aku betapa menyenangkannya menjalani sesuatu tanpa harus berkejaran dengan waktu, memburu cring-cring rupiah yang tanpa kita sadari tak akan pernah ada kata cukup untuk mengumpulkannya.  memburu saat agar bisa eksis dalam dunia yang kita minati tapi kita tak pernah sadar eksis saja tak cukup jika kita harus kehilangaan saat-saat memanjakan diri menjalani kehidupan tanpa beban dan jauh dari standar sukses dari orang lain.

sore ini, aku kangen kamu…. dan berharap menyusuri pedestrian sepanjang jalan Sudirman  ini bersama  kamu *ahaaa* 😉

Advertisements

2 thoughts on “hujan dan senja

  1. “betapa menyenangkannya menjalani sesuatu tanpa harus berkejaran dengan waktu, memburu cring-cring rupiah yang tanpa kita sadari tak akan pernah ada kata cukup untuk mengumpulkannya. memburu saat agar bisa eksis dalam dunia yang kita minati tapi kita tak pernah sadar eksis saja tak cukup jika kita harus kehilangaan saat-saat memanjakan diri menjalani kehidupan tanpa beban dan jauh dari standar sukses dari orang lain”.

    AWFULLY INSPIRING AND NICE, Mbak.. Love the comment to bits!!! Kadang-kadang aku suka dan sengaja melupakan bahwa INI ADALAH RESEP SEDERHANA UNTUK BAHAGIA. Thanks very much for sharing this!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s