manajemen resiko

Ala bisa karena biasa . . . Mungkin itu pepatah yang tepat untuk di terapkan guna memberi dukungan kepada diri sendiri ketika kita ragu untuk melakukan sesuatu.

Dalam banyak hal kadang kita merasa tidak yakin untuk melakukan sesuatu, tidak PD untuk memulai sesuatu tapi sepertinya perasaan seperti itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Jika kita ragu untuk memulai atau melanjutkan suatu niat ada baiknya kita berhenti sejenak, berfikir lebih dalam, melihat sekitar dan halau kebimbangan akan reaksi yang akan dihasilkan oleh sesuatu yang kita kerjakan. Akan berefek positif atau negatif itu seharusnya menjadi resiko yang harus kita terima. Bukankan semua hal selalu yang dikerjakan itu selalu beresiko?

Ok mari kita kembali ke “ala bisa karena biasa” tadi pagi saya satu angkot dengan penjual ikan. Dia membawa ember yang berisi ikan untuk di bawa ke pasar. Hampir saya membatalkan niat untuk naik angkot itu begitu mendekati pintu masuk tercium bau yang sangat amis. Tapi dengan banyak pertimbangan yg salah satunya karena takut telat ke kantor akhirnya saya duduk manis di belakang sopir. Sebelumnya dalam hati saya sudah bertekat bulat untuk menutup hidung dengan tisu dan menyemprotkan parfum kesayangan saya di tangan. Tapi lagi-lagi niat tersebut saya batalkan karena takut menyinggung perasaan mbak si penjual ikan tersebut. Satu dua menit saya masih berusaha menahan napas agar tidak mencium bau amis yang keluar dari 2 ember yg dibawa mbak penjual ikan tersebut tapi entah di menit keberapa hidung saya mulai lupa untuk menahan napas dan tanpa disadari saya mulai terbiasa dengan kondisi udara di dalam angkot tersebut. Angin yang bertiup dari cela jendela yang terbuka membuat aroma amis itu kadang menghilang lalu timbul dengan tajam. Setelah beberapa lama malah saya sempat ngobrol dengan si mbak penjual ikan tersebut, menanyakan akan di jual kemana ikannya, apa saja suka duka berjualan ikan? Terlihat lucu, sesuatu yang tadinya berusaha saya hindari justru memberi pengalaman dan ilmu baru buat saya 🙂

Mungkin ilustrasi tentang mbak penjual ikan itu tidak cukup bisa memberikan gambaran tentang makna “ala bisa karena biasa” yang saya maksud diatas tapi paling tidak memberikan sedikit gambaran ketika kita ingin memulai atau melanjutkan sesuatu apapun halangan dan rintangan yang kita anggap sesuatu yang akan mengganjal proses pencapaian harus kita ambil dan hadapi.

Baiklah selese sudah meracau dan curcol pagi ini, dan saya sudah memutuskan untuk mengambil resiko dengan rencana yang beberapa bulan ini ada dalam otak saya . . . SEMANGAT !!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s