>Mall to Mall – #project7 #Day2

>

“Apa sih yang lo lakuin kok hampir setiap hari ke mal?” tergiang ucapan seorang teman dalam satu percakapan via tlp. “kerja, emangnya apa yang lo lakuin kalo ke mal?” saya ingat ketika menjawab itu saya sedang ngopi-ngopi cantik dengan seorang pengusaha dari medan yang tertarik menjadi mitra kerja kantor saya 🙂

Dalam postingan ini saya tidak akan menulis tentang bagaimana, kenapa, mengapa asal usul atau pro kontrakeberadaan tempat bernama mal, tapi saya ingin menulis tentang aktivitas sehari-hari saya yang berhubungan dengan mal *narsis banget nulis tentang aktivitas diri* :p dan hasil analisa *ala kadarnya* kenapa banyak orang suka ke mal, meskipun banyak juga orang yang benci mal 😀

Kalau ditanya seberapa besar saya mencintai mal, saya akan menjawab sebenarnya saya kurang suka dengan mal, berada ditempat yang terlalu ramai, suara yang berisik dan kemungkinan berpapasan dengan banyak orang berbeda karakter kadang membuat saya tidak nyaman, tapi berhubung jenis pekerjaan saya berhubungan dengan retail dan memaksa saya harus mengunjungi satu mal ke mal lain, akhirnya saya berusaha untuk mencari sisi positif dan hal-hal yang menarik dari sebuah mal.

Sekarang ini Mal atau dalam bahasa indonesia disebut pusat perbelanjaan tidak lagi berfungsi untuk tempat berbeanja, di kota besar seperti jakarta,surabaya , bandung, medan atau makasar mal juga beralih fungsi menjadi tempat rekreasi. kalau memakai istilah seorang temen yang bekerja pada Building management, dia bilang suatu mal di bangun agar semua anggota keluarga merasa “happy” ketika berkunjung ke suatu mal. Ayah bisa bertemu dengan kolega di kedai kopi atau ngeGym di pusat kebugaran, ibu bisa ke merawat diri di salon, belanja perlengkapan rumah tangga di supermarket atau dept. store, anak bisa bermain di taman bermain atau pergi ke toko buku, atau bersama-sama menghabiskan waktu di tempat karaoke, bioskop atau restoran favorit. yah bisa dimengerti konsep menjadikan mal sebagai tempat yang bisa menampung banyak kebutuhan masyarakat kota besar yang mempunyai masalah dengan semakin sedikitnya taman dan tempat bermain dan kemacetan.

Oiya satu lagi, ternyata mal juga banyak di pergunakan oleh para freelancer sebagai kantor, entah bertemu dengan klien , tempat yang nyaman ketika deadline tiba atau ketika butuh koneksi internet. dengan memesan secangkir kopi “kapitalis” seorang freelancer yang kebetulan tidak mempunyai kantor resmi bisa duduk berjam-jam, bertemu dengan klien dengan suasana yang nyaman dan elegan, lalu kemudian pundi-pundi uangpun akan segera terisi 😀

Banyak orang pro kontra dengan kehadiran sebuah mal, tapi selama masih mau tinggal di kota besar seperti Jakarta sepertinya kita memang tak bisa melepaskan keseharian kita dengan mal. Baiklah cukup sampai disini “racauan” saya tentang sebuah mal, kalau ada waktu disambung lagi hehehe…

*****
postingan #Mos5bookclub #project7 #Day2 | @yuliaastuti founder @moz5salon @istribawel penulis buku #TestPack dengan peserta tantangan @nagacentil @IndahJuli @chi_yennesy 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s