Polemik BBM Naik? Wisbiyasa..

image

Jujur sebenernya saya agak malas ikut dalam perbincangan yang berbau politik atau isu kebijakan negara, bukan apa-apa … nga nyampe ilmu saya kalau harus memikirkan kelangsungan hidup negara, lah wong memikirkan kelangsungan hidup sendiri aja kadang membuat kepala senut-senut :p

Angkot (Angkutan Umum) yang saya naikin terasa berjalan tersendat. Saya yang saat itu duduk di pojok belakang sibuk membalas percakapan online dengan seorang teman. Tak bermaksud menguping saya terpaksa mendengar percakapan keras antara perempuan muda yang duduk disamping sopir, Lelaki dengan muka penuh berewok yang duduk di belakang sopir dan sang sopir angkot itu sendiri.
Mereka asik membahas tentang antrian dampak  kenaikan bbm serta populasi kendaraan yang semakin tinggi. Pak Sopir berseloroh “mau ngantri, mau demo atau mau ngambek sama negara pun, yang namanya harus naik ya naik aja, nga enak juga terus menerus dicekoki (disubsidi) negara, yang butuh bensin itu khan orang yang punya mobil, lah kalau mampu beli mobil mosok nga mampu beli bensin toh ya mba?” Saya melihat perempuan muda yang duduk disamping pak sopir menganggukan kepala. Sang Sopir kembali melanjutkan ucapannya “Kalau orang susah seperti kita itu ya nga terlalu ngaruh dengan kenaikan harga bensin, kalau penumpang yang naik angkot ya paling nambah ongkos Rp  500 ya wajarlah kalau naik segitu, artinya nga masalah ada kenaikan selama ditanggung bersama, yang berat itu khan biaya pendidikan dan kesehatan  lagian bukankah setiap pemerintah baru juga pasti ada kebijakan naik bbm? Coba masa pemerintahan siapa yang nga ada kenaikan bbm? Kalau bbm terus disubsidi tapi menggunakan uang pinjaman dari Bank Dunia, ya kasihan anak cucu kita. Banyak utang”

Lelaki penuh brewok yang duduk dibelakang pak sopir menimpali “Iya saya setuju dengan pendapat pak sopir, menurut saya subsidi bbm itu yang menikmati ya orang-orang kaya yang beli mobil seperti beli gorengan. Mereka-mereka itu yang pusing karena kenaikan bbm berpengaruh dengan operasional mereka” Wanita separoh baya yang duduk disamping saya tampak mulai tertarik ikut bergabung dalam percakapan, dia pun mulai bicara “tapi sedikit banyak kenaikan bbm itu mempengaruhi harga lhoo pak, besok-besok pasti harga sembako ikutan naik. Eh tapi biasanya awal tahun UMP (Upah Minimum Provinsi) juga naik, nantinya pengusaha yang pusing bayar gaji dech”

“Ahh… saya jadi pusing, kok jadi muter-muter begitu ya persoalannya” si sopir kembali berkomentar. “Saya mah nga mau mikirin yang pusing-pusing pak, selama masih lapangan pekerjaan dan ada kemudahan fasilitas kesehatan dan pendidikan dari pemerintah, saya mah ikut aja kebijakan pemerintah” perempuan muda yang duduk disamping pak sopir kembali beropini.

Tak lama  angkot melaju melewati POM bensin dengan puluhan mobil pribadi yang mengantri bensin, dan saya pun kembali teringat perjalanan saya di Hongkong beberapa tahun lalu, kembali teringat percakapan saya dengan seorang wanita yang sangat modis yang menggunakan hi-heels tapi masih mau turun naik stasiun dan menggunakan MTR untuk beraktivitas. Perempuan itu mampu membeli kendaraan, tapi karena biaya membeli bbm dan parkir mahal mereka memilih transpotasi publik. Hasilnya ya semakin sedikit kendaraan yang berkeliaran di jalanan, semakin sedikit pula timbul kemacetan.

Kalau dipikir-pikir, ternyata kita itu warga negara yang manja yaaa 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s