SumbarTrip – Jam Gadang Landmark Bukittinggi

IMG_8018e

Jam Gadang Bukittinggi Sumatera Barat

Melanjutkan keisengan kami yang memaksa berkeliling kota padang dengan transpotasi publik, akhirnya kami menuju  pul Travel Tranex.  Dari kota Padang menuju Bukittinggi kami dimintai ongkos Rp 18.000,- Selama perjalanan kami habiskan dengan tidur pulas karena rasa kantuk mendera efek flight dari bandara Soetta ke bandara Minangkabau yang terlalu pagi.

Saya sempat terbangun ketika penumpang didalam mobil travel ‘Heboh’ bercerita kalau ada mobil pribadi yang masuk ke lembah yang terletak disisi kanan jalan. Saat itu mobil baru sampai Lembah Anai, tak lama berselang dari lokasi kejadian kecelakaan tadi saya melihat air terjun tampak di kiri jalan, beberapa orang turun dari mobil travel untuk membuang air kecil dan membeli makanan. Hari semakin sore, tampak kabut sudah mulai turun dan mobil travel yang kami tumpangi melaju ke  jalan raya Padang Panjang.

   Lembah Anai2    Lembah Anai

Menjelang Maghrib kami sampai ke Bukittinggi. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari dimana letak Jam Gadang, Maklum dalam bayangan kami hanya Jam Gadang yang akan menjadi patokan dimana kami akan bermalam. Setelah tanya sana sini dan mencoba membuka peta via tablet akhirnya kami berjumpa dengan Landmark Bukittinggi tersebut. Yeayy Jam Gadang….

Saat asik memeriksa pesan yang masuk di ponsel, tiba-tiba saya mendengar seseorang berbicara “ooh ini Jam Gadang yang tidak gadang gadang amat itu?” saya menoleh kepada orang tersebut dan  tersenyum, yah memang Jam Gadang yang terletak didepan saya ini tak segadang (besar) yang saya bayangkan 🙂 Setelah berkeliling mencari hostel yang sesuai dengan budget akhirnya kami terdampar di hotel Dahlia yang terletak di Kampung Cina yang bisa ditempuh +/- 10 menit dari Jam Gadang dengan berjalan kaki. Maksud hati ingin bermalam di Hotel the hills bukittinggi yang megah itu tapi apa daya budget yang sangat minim memaksa kami harus mencari hotel yang bertarif  dibawah Rp 300.000 per malam.  Yang penting Kamar dan Kamar mandinya bersih, toh kami hanya menumpang tidur dan mandi, saya coba menghibur diri 😀 Selesai meletakkan barang bawaan dan mandi kami keluar untuk melihat seputar kota gadang di malam hari serta mencari makan malam. Dibawah ini adalah suasana Bukittinggi malam hari di sekitar Jam Gadang :

IMG_8014e   IMG_8015e

IMG_8028e  IMG_8033e  IMG_8019e

Setelah berputar-putar dan mengabadikan keindahan sekitar jam gadang akhirnya kami memutuskan untuk berwisata kuliner di tenda-tenda sepanjang jalan di kampung cina. pertama-tama saya memesan sate Danguang-danguang. Tak tahu persis apa bedanya sate danguang-danguang dengan sate padang yang biasa saya santap di Jakarta tapi saya merasa sate danguang-danguang itu rasanya sangat lembut dan lebih kering (mungkin kebetulan aja ketemu pedagang yang jual sate danguang-danguang yang enak) 😀 Selain memesan sate saya juga memesan teh talua (teh telur) untuk yang satu ini saya tidak terlalu asing karena sayang sering membelinya di matraman. Kalau yang belum pernah minum teh talua pasti agak merasa aneh dengan rasanya, kalau dipikir-pikir rasanya seperti adonan kue tapi yang encer. saya termasuk penggemar teh talua makanya saya sangat bersemangat mencoba teh talua yang asli di ranah minang 🙂 Kata penjualnya selain berfungsi sebagai pengusir rasa dingin, teh talua juga berfungsi mengembalikan tenaga setelah seharian beraktivitas, mungkin semacam suteja atau stmj. dibawah ini adalah penampakan sate danguang-danguang dan teh talua yang malam itu menjadi makan malam pertama kami di Bukittinggi.

IMG_8041e         IMG_8036e

Setelah selesai makan malam kami menuju ke hostel, mempersiapkan tenaga untuk besok pagi trekking menikmati panorama ngarai sianok. tampak beberapa turis asing masing hangout dibeberapa tenda dan warung sepanjang jalan di kampung cina. suasana di kampung cina memang sangat ramah bagi turis lokal dan mancanegara. petunjuk dan pusat informasi bagi turis juga sangat diperhatikan. Kalau bisa dibandingkan dengan Jogja dan Bali, Sepanjang Jalan dari Jam Gadang – Kampung Cina itu bisa diibaratkan seperti Malioboro dan Kuta, menjadi tempat berkumpulnya para turis 😀

Malam semakin larut, saya lanjutkan cerita tentang trekking Ngarai Sianok dan Jalan-jalan di Bukittinggi pada postingan berikutnya ya 🙂

Salam,

-N-

Advertisements

One thought on “SumbarTrip – Jam Gadang Landmark Bukittinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s